Sejarah Tenganan dimulai dengan cerita tentang kuda persembahan bernama Oncesrawa yang hilang sebelum upacara Aswameda Yadnya yang dilakukan oleh Raja Mayadenawa. Raja yang terkenal sakti ini melarang rakyatnya untuk beribadah, sehingga memicu kemarahan para dewa. Dalam pencarian kuda tersebut, warga Peneges menemukan Oncesrawa dalam keadaan mati di pesisir Candi Dasa. Sebagai balasan atas penemuan ini, Bhatara Indra mengizinkan mereka untuk menetap di daerah tersebut, yang kemudian dikenal sebagai Tenganan.
Masyarakat Tenganan Pegringsingan memiliki struktur sosial yang unik. Mereka menerapkan sistem endogami, di mana pernikahan hanya diperbolehkan antarwarga desa. Hal ini menjaga keaslian budaya dan adat istiadat mereka. Selain itu, desa ini dikenal dengan kerajinan tenun Gringsing, yang merupakan salah satu warisan budaya Bali.
Di sekitar desa terdapat beberapa tempat suci yang berkaitan dengan mitos kuda Oncesrawa:
– Batu Taikik: Dianggap sebagai bekas isi perut kuda.
– Penimbalan: Dianggap sebagai bekas paha kuda.
– Batu Jaran: Tempat di mana kuda ditemukan dalam keadaan mati.
Masyarakat Tenganan masih mempertahankan tradisi dan pola hidup yang diwariskan oleh nenek moyang mereka. Mereka menjalani kehidupan yang sangat terikat dengan adat istiadat Bali Aga, termasuk dalam hal pertanian, kerajinan, dan upacara keagamaan. Salah satu tradisi terkenal adalah Perang Pandan, sebuah ritual tahunan yang mencerminkan keberanian dan semangat komunitas.
Nama : I Komang Agus Artana
NIM : 2213081060
No : 07
Kelas : PB22D BANGLI





